Ide Siswa SMA Agar Gigi Pemulung dan Tukang Sampah Sehat

138847_large

Tak ada yang menyangka jika seorang pelajar SMA mampu memikirkan kesehatan setiap warga yang ada di Jakarta. Para siswa juga mengkhususkan pengobatan bagi pemulung dan tukang sampah yang ada di Jakarta.

Ide ini dibuat oleh kalangan pelajar dari Jakarta Inernational School (JIS), Pondok Indah, Jakarta Selatan. Mereka ingin membuat para pekerja tumpuan Jakarta itu sehat dalam hal perawatan gigi. Siswa-siswi JIS ini pun bekerja sama dengan Obor Berkat Indonesia (OBI).

High School Service Learning Coordinator, Anne Andrews, menjelaskan program ini bertujuan membuka akses bagi anak-anak yang kurang mampu untuk mendapat edukasi dan perawatan gigi sejak dini.

“Banyak dari mereka yang kesulitan untuk pergi ke dokter gigi karena faktor biaya dan tidak terdaftar sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),” kata Anne di JIS, Selasa, 1 Desember 2015.

Annie menambahkan, tak hanya memberikan edukasi tetapi para siswa SMA ini juga mengadakan program pemeriksaan gigi gratis.

“Jadi sejumlah siswa mengajukan permohonan kepada sekolah untuk mengadakan program ini. Pihak sekolah sangat mendukung hal tersebut karena sangat sejalan dengan misi kami yang selalu mengasah kepedulian siswa terhadap isu-isu sosial di masyarakat,” ucap dia.

Melalui berbagai kegiatan sosial yang diadakan sekolah, JIS mengajak siswanya untuk menjalankan perannya sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab, bagaimana mereka dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Sementara menurut penanggung jawab Obor Berkat Indonesia (OBI), Victor Palapessy, kegiatan Periksa Gigi Gratis sudah dilaksanakan sejak 2001. OBI sendiri berdiri sejak tahun 1999 dan cakupan layanannya sudah mencapai Sumatera hingga Papua.

“Program kerja sama dengan JIS adalah program kemitraan jangka panjang dan berkelanjutan. Harapannya anak-anak komunitas binaan JIS lainnya yang selama ini belum memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan gigi bisa terbantu,” katanya.

OBI memandang kegiatan seperti ini sangat penting sebagai edukasi awal terhadap anak-anak untuk memahami cara memelihara dan merawat gigi dengan benar. Apalagi gigi dan mulut merupakan gerbang utama masuknya makanan dan minuman ke dalam tubuh.

“Jadi makanan yang bergizi pun dapat menjadi sumber penyakit apabila ikut masuk bersama bakteri yang di mulut,” jelasnya.22562752256275

Terapkan ISP, JIS Kontribusi Tingkatkan Kualitas Pendidikan

750xauto-matematika-nggak-sesulit-yang-dibayangkan-kok-malah-menyenangkan-1703288

Jakarta Intercultural School ( JIS) bersama dengan Yayasan Emmanuel, Mentari School Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, hari ini, meluncurkan kerjasama program Innovative Schools Program (ISP). Program yang ditujukan bagi guru-guru dan sejumlah Kepala Sekolah SD Negeri di Jakarta ini merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperkuat kualitas pendidikan, khususnya bagi sekolah dasar, di Indonesia.

“Sebagai sebuah institusi pendidikan, JIS memiliki perhatian khusus tidak hanya kepada anak-anak yang bersekolah di JIS, namun juga terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya Jakarta, melalui pengembangan modul dan metode mengajar yang bersifat interaktif melalui program Innovative Schools Program (ISP) yang diprakarsai oleh Yayasan Emmanuel,” ujar Head of School JIS, Timothy Carr, Selasa (28/2/2017).

Program ISP ini bertujuan untuk memfasilitasi para guru dan Kepala Sekolah untuk dapat mengantarkan kurikulum nasional melalui metode pengajaran yang interaktif, menyenangkan dan lebih memotivasi siswa. Ke depannya, para guru JIS yang terlibat dalam program ini akan melakukan serangkaian pelatihan dan berbagi pengetahuan serta pengalaman kepada guru-guru dan kepala sekolah di SD Negeri yang berada di DKI Jakarta.

“Kami berharap ke depannya program ISP ini dapat terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya ke daerah-daerah lain sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi para tenaga pengajar dan murid-murid di Indonesia,” tambah Timothy.

Wakil Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Drs. H. Bowo Irianto, M.Pd mengatakan hadirnya Innovative School Program (ISP) yang digagas dan dilaksanakan oleh Yayasan Emmanuel, Yayasan Perkembangan Anak Indonesia, Sekolah Mentari dan Jakarta Intercultural School sangat membantu Dinas Pendidikan dalam usaha meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.

“Program ISP sangat membantu Dinas Pendidikan terutama dalam meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan melalui kegiatan pelatihan yang interaktif, kreatif, menyenangkan dan memotivasi peserta didik untuk belajar secara efektif dan konstruktif. Program ISP juga memberikan inspirasi bagi unit-unit di Dinas Pendidikan dalam menyelenggarakan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dengan pendekatan yang diimplementasikan pada program ISP,” kata Bowo.

“Program ISP terbukti mampu memberikan terobosan baru dalam hal teknik belajar mengajar di dalam kelas. Disini guru – guru mendapatkan banyak ilmu untuk mengaplikasikan metode mengajar yang bervariasi dan dapat memotivasi anak didik menjadi lebih kreatif, memiliki rasa ingin tahu tinggi dan fokus terhadap mata pelajaran di sekolah,” ujar alumni ProgramISP Nanik Setyowati, S. Pd, Kepala Sekolah SDN Lebak Bulus 04 Pagi.

Acara peluncuran program ISP ini dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Sesditjen Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dr. Thamrin Kasman, S.E., M.Si. dan Walikota Jakarta Selatan H. Tri Kurniadi, S.H., M.Si. yang sekaligus menyaksikan peresmian Gedung F-Module di JIS. Gedung baru F-Module di JIS ini akan digunakan sebagai salah satu sarana dan fasilitas pelatihandan workshop bagi para guru dan kepala sekolah SDN yang menjadi peserta program ISP.

Sumber : http://www.netralnews.com/news/pendidikan/read/59010/terapkan.isp..jis.kontribusi.tingkatkan.kualitas.pendidikan

Saat Siswa JIS Unjuk Kebolehan Memainkan Gamelan

029117800_1472018570-20160824-Hari-Kemerdekaan-Indonesia-Jakarta-GMS6

Indonesia memiliki keragaman seni dan budaya yang sangat kaya. Salah satunya dari musikalitasnya.

Nah, alat musik tradisional apa saja yang kamu tahu? Ada angklung, suling, sasando, gamelan dan masih banyak lagi. Pernahkah kalian memainkan dan mempelajari setiap nada-nada yang dihasilkannya?

Kalau belum, kamu harus mulai dari sekarang, nih! Soalnya, anak-anak yang ekspatriat dan berdarah campuran, ternyata mahir memainkan salah satu alat musik tradisional Nusantara, yakni gamelan.

“Gamelan adalah kunci untuk bermain musik di sini. Selain itu, JIS memiliki kurikulum musik dan gamelan sangat dominan,” kata Elsa Donahue, Elementary Principal JIS, saat ditemui di Kampus Pattimura, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Setiap harinya, murid-murid Jakarta Intercultural School (JIS) Kampus Pattimura memiliki kelas untuk belajar bahasa Indonesia. Kelas-kelas dibagi menjadi beberapa level. Mulai pemula sampai mahir. Tak hanya itu, mereka pun belajar tentang beberapa elemen budaya Indonesia.

“Setiap elemen budaya Indonesia dipelajari di sini. Mereka juga belajar tarian dari berbagai daerah. Mendatangkan juga penari dari luar sebagai pengajar,” tambah Elsa.

Amy Hinds, siswa kelas 4 Sekolah Dasar menceritakan bahwa saat belajar main gamelan, ia terus berlatih dan mencatat sampai ingat.

“Saya menuliskan, lalu memainkannya terus sampai ingat. Kadang kalau terlalu sering bermain, bahu saya sakit,” kata Amy dengan bahasa Indonesia yang agak terbata-bata.

Sumber : http://student.cnnindonesia.com/edukasi/20160825145642-445-153794/saat-siswa-jis-unjuk-kebolehan-memainkan-gamelan/

Budaya Senyum, Salam Dan Sapa Di Sekolah Jis

281477493409

Budaya 3S (Senyum, salam, dan Sapa) merupakan budaya baik yang ada di Indonesia dan harus dikembangkan, Senyum terbukti dapat mengurangi stress dan menambah teman.  Ketika senyum otot  wajah yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan cemberut yaitu sekitar 17 otot, dibandingkan dengan ketika cemberut yaitu 43 otot.

Sapa merupakan sebuah penghormatan kita tehadap orang lain. Ketika orang lain kita sapa, mereka merasa dihormati. Sebaliknya, orang lain juga akan menghormati kita, Sapa akan membawa aura kebaikan.

Selain itu Salam terbukti dapat membuat orang saling menyayangi. Ketika orang memberikan salam kepada orang lain, orang lain akan merasa senang dan merasa diperhatikan.

Untuk menjaga Budaya 3S ini, banyak sekolah yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah Sekolah JIS(Jakarta Intercultural School), seperti yang sudah diketahui Sekolah JIS ini merupakan Sekolah International yang berada di Jakarta.

Sekolah JIS ini sebagian besar murid-muridnya itu merupakan anak ekspatriat namun jangan salah walaupun mereka ini merupakan anak Ekspatriat namun ternyata murid-murid JIS begitu mencintai budaya Indonesia loh gan. Beberapa waktu yang lalu ane sempat berkunjung kesekolah JIS dan menyaksikan langsung Siswa dan Siswi JIS ini memainkan alat musik.

Back to Channel ya, menurut pengalaman ane sendiri nih gan hampir semua orang yang ane temui di JIS baik itu pegawai, guru bahkan muridnya itu menerapkan Budaya 3S dikehidupannya. Walaupun ga kenal tapi mereka dengan senang hati memberikan senyum dan sapa.

Berbeda dengan beberapa sekolah yang ane pernah kunjungi nih gan, terkadang mereka itu lebih senang disapa ketimbang menyapa duluan, lebih baik cuek dari pada harus senyum duluan. Nah kalo seperti ini bagaimana dengan moral anak bangsa kelak ???

Budaya 3S yang dilakukan oleh Sekolah JIS ini baiknya dicontoh oleh sekolah-sekolah, karena jika anak telah terbiasa  melakukan 3S kepada orang lain dari kecil, dewasanya akan menjadi orang yang dapat menghargai orang lain.

Lagu Ibu Kita Kartini Dinyanyikan di Sekolah JIS

“Ibu Kita Kartini
Putri sejati..
Putri Indonesia..
Harum Namanya..
Wahai, Ibu Kita Kartini Putri yang mulia..
Sungguh Besar Cita-Citanya bagi Indonesia”

Lagu Ibu Kita Kartini mengingatkan kita kepada perjuangannya memajukan emansipasi wanita pribumi yang dulu memprihatinkan. Saat itu hidup perempuan pribumi amat menderita seperti dipingit, tidak berhak menuntut ilmu pengetahuan serta mengekang kebebasan perempuan.

Hingga kini lagu Ibu Kita Kartini ini masih dinyanyikan di tiap sekolah di Indonesia untuk terus menghargai dan mengingatkan jasa-jasa yang beliau lakukan.

Salah satunya di Sekolah JIS (Jakarta Intercultural School). Selain menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, JIS juga mengenalkan kebudayaan Indonesia, seperti Gamelan dan Batik.

Eitss jangan salah, walaupun siswa dan siswinya mayoritas adalah anak ekspatriat, namun mereka fasih menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dan Indonesia Raya. Bahkan lebih menakjubkan lagi mereka sudah bisa memainkan alat musik tradisional Jawa yakni Gamelan. Wow!

Jadi sebagai generasi penerus bangsa, anak muda zaman sekarang jangan hanya senang menyanyikan lagu K-POP saja namun juga mencintai lagu-lagu nasional, seperti Ibu Kita Kartini. Perjuangan beliau dulu menjadikan perempuan Indonesia kini mendapatkan hak-haknya terutama dalam kebebasan mencari pengetahuan seperti di inginkan.

Sekolah JIS, Membangun Bangsa Sejahtera Bersama Habitat For Humanity

“Naga Naga Naga.. Oiii oiii oii” merupakan yel-yel penyemangat dari salah satu sekolah International yakni Jakarta Intercultural School (JIS).

Sekolah JIS ini merupakan sekolah International yang telah berdiri sejak 1951, Sekolah ini didirikan tahun 1951 untuk anak-anak ekspatriat, sejak 65 tahun yang lalu Sekolah JIS ini berhasil melahirkan anak-anak yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar dan mencintai budayanya sendiri terutama budaya Indonesia gan.

Membaca salah satu thread tentang Siswa JIS Peduli Lingkungan (http://www.kaskus.co.id/thread/5656d3e5529a4596288b456c/siswa-jis-peduli-lingkungan) ane jadi penasaran gan tentang “kebaikan” JIS kepada masyarakat Indonesia.

Awalnya ane “kepoin” thread-thread tentang sekolah JIS ini gan, ane jadi banyak tau tentang kebaikan yang dilakukan oleh JIS ini gan dimulai dari bangun rumah untuk masyarakat yang kurang mampu hingga dental screening gan. Keren ya!

Oiya ane juga kepo di Youtube ternyata ada akun Youtube “Naganation” yang upload beberapa kegiatan edukasi sekolah JIS gan. Ane tertarik dengan video Habitat For Humanity (https://youtu.be/SM1Wjur7lQs) , kenapa ane tertarik melihat video tersebut? Karena ada beberapa bapak-bapak yang diwawancara langsung tentang kehidupannya.

Salah satunya adalah Pak Sadik gan, dois menceritakan dulu itu untuk panen bisa sampai sebulan sekali kalo sekarang untuk makan pisang aja susah, selain itu ada Pak Oji yang memiliki penghasilan yang tidak pasti.

Ternyata mereka ini dulunya adalah seorang Petani gan, namun mereka beralih menjadi buruh lepas yang tanpa kepastian. Dengan penghasilan yang serba kekurangan mereka berjuang mencari penghidupan sementara tempat tinggal semakin tak layak.

Nah dengan uluran tangan yang diberikan oleh JIS ini gan, tempat tinggal mereka yang tidak layak itu kini menjadi hunian yang layak untuk di tempati.

Murid-murid JIS ini bekerja sama gotong royong dengan para warga, mereka saling bahu membahu untuk mengecat rumah para warga, mereka juga tidak sungkan untuk bercanda tertawa bersama para warga.

Habitat For Humanity ini adalah Organisasi kemanusiaan yang memperjuangkan Hunian layak bagi semua masyarakat yang membutuhkan. JIS telah bekerjasama dengan Habitat For Humanity sejak tahun 2003 nah kalian bisa bayangkan gan berapa banyak rumah yang telah dibantu oleh sekolah JIS ini gan.

Selain membantu membangun rumah, murid-murid JIS ini juga membantu mencarikan dana loh gan seperti yang dilakukan oleh seorang siswa JIS dengan melakukan berenang menempuh jarak tertentu dan dibayar oleh donaturnya. Dengan ikut membantu membangun rumah layak huni ini berarti Sekolah JIS  ikut membangun bangsa yang sejahtera melalui keluarga yang sejahtera keluarga yang bahagia.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maiqueenda/sekolah-jis-membangun-bangsa-sejahtera-bersama-habitat-for-humanity_5785ec8af09273b2059b5f01

Matematika nggak sesulit yang dibayangkan kok, malah menyenangkan

750xauto-matematika-nggak-sesulit-yang-dibayangkan-kok-malah-menyenangkan-1703288

Matematika selama ini selalu dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. Nggak jarang, pelajaran ini begitu menakutkan bagi para siswa. Eh tapi tahu nggak sih, sebenarnya matematika itu pelajaran yang menyenangkan.

Malah pelajaran ini bisa menjadi penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari lho. Kok bisa ya? Cara inilah yang dilakukan Yayasan Emmanuel bekerja sama dengan Jakarta Intercultural School (JIS) lewat program Innovative School Program (ISP). Oh ya program ini sudah dijalankan sejak 2010 silam.

brilio.net/yani andryansjah

Program ISP ini setidaknya sudah dirasakan manfaatnya oleh 300 guru dan kepala sekolah dasar negeri di Jakarta. Program ini fokus pada metode interaktif, belajar sambil bermain (fun learning), dan mengeksplorasi kemampuan siswa.

“ISP adalah program motivasi di sekolah yang dimulai beberapa tahun lalu dengan Yayasan Emmanuel dan bekerja sama dengan JIS. Ini sebagai bentuk program inovatif,” kata Koordinator ISP JIS, Greg Zolkowski saat wawancara kepada brilio.net beberapa waktu lalu.

brilio.net/yani andryansjah

Cara ini sebenarnya untuk meningkatkan cara belajar dan mengajar dengan metode baru. Tujuannya untuk lebih memotivasi siswa agar lebih aktif di kelas.

“Ini kesempatan luar biasa untuk mengenal lebih jauh cara mengajar sekolah di Indonesia. Bagus juga untuk perkembangan siswa baik di JIS maupun siswa-siswa lokal,” lanjut Zolkowski.

brilio.net/yani andryansjah

Yang jelas program ini bisa membantu para guru di Indonesia untuk lebih memiliki cara kreatif dalam mengajar. Jadi mereka bisa mendapat pengalaman bagaimana cara mengajar yang lebih menarik bagi siswa.

Misalnya, dalam mengajar guru bisa memanfaatkan alat peraga yang menarik siswa. Jadi nggak Cuma sekadar memberikan teori. Cara ini juga bisa membantu siswa lebih aktif bekerja sama di kelas.

brilio.net/yani andryansjah

“Program ini sangat banyak manfaatnya. Ternyata banyak cara untuk mengajarkan murid. Guru jadi punya banyak ide. Setiap pagi kita nggak langsung memberikan materi pelajaran kepada siswa. Ada metode untuk mencairkan suasana kelas. Cara ini membuat siswa semakin enjoy belajar,” kata Guru SDN Menteng 02, Kelly Juniartha.

Maklum deh, selama ini baik siswa dan guru selalu beranggapan mengajarkan matematika itu sulit sekali. Tetapi setelah mengikuti program ini, ternyata nggak sesulit yang dibayangkan tuh.

Kelly Juniartha (foto: brilio.net/yani andryansjah)

“Jadi untuk mengajar matematika, guru mesti menanamkan konsep dulu kepada siswa baru setelah itu kita melatih siswa,” tambah Kelly.

Nggak heran deh, sejak 2016 Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan dukungan penuh terhadap program ini dengan menandatangani Nota Kesepakatan bersama Yayasan Emmanuel, JIS dan Mentari School Jakarta.

Hal ini membuka peluang baru bagi guru dan sekolah dasar di DKI Jakarta untuk mendapatkan materi dan pelatihan metode pembelajaran serupa.

>>SUMBER<<